Senin, 02 Juli 2018

10 Ilmuwan terseksi di dunia, ada yang dari Indonesia juga


Kata siapa kata seksi dan ilmuwan tak pantas bersanding? Dulu mungkin profesi ilmuwan identik dengan kutu buku atau kepribadian eksentrik. Peneliti yang berjenis kelamin wanita pun jarang.

Tetapi kesan itu sudah harus ditinggalkan di zaman modern ini, karena cukup banyak wanita yang memilih menjadi ilmuwan dan peneliti tanpa harus mengadopsi stigma eksentrik dan kutu buku. Beberapa di antaranya bahkan cukup atraktif untuk menjadi selebriti. Sementara sebagian lagi ditunjuk menjadi pembicara di berbagai event sains untuk mengajak lebih banyak kaum muda agar tergerak menjadi ilmuwan.

Tentu saja selain cantik dan menarik, kiprah mereka di dunia sains juga tak main-main. Profesi peneliti bukan sekadar label yang sengaja dilekatkan pada diri mereka untuk mengubah wajah dunia sains di mata dunia. Para ilmuwan seksi ini merupakan otak di balik penemuan-penemuan penting.

1. Heather Knight

Di balik kepala berambut pirang Heather Knight tersembunyi otak cerdas dan kegemaran terhadap robot. Perempuan cantik ini merupakan pemegang dua gelar sarjana dari Massachusetts Institute of Technology, gudangnya para peneliti dan insinyur terbaik di Amerika Serikat.

Heather yang juga menempuh pendidikan di Carnegie Mellon ini adalah pendiri Marilyn Monrobot. Perusahaan tersebut membuat robot-robot dengan kecerdasan sosial dan seni elektronik berbasis sensorik. Robot-robot bikinannya dipajang di Smithsonian-Cooper Hewitt Design Museum, LACMA, dan PopTech.

Fokus utama Heather sebagai peneliti adalah mempelajari interaksi antara manusia dan robot, robot personal, robot dengan keahlian teatrikan, dan sistem behavioral.

2. Siobhan Pattwell

Perempuan 34 tahun yang hobi belanja dan mendengarkan musik country ini adalah peneliti dengan bidang neurosains di Weill Cornell Medical College. Topik yang menjadi pokok penelitiannya adalah perkembangan otak, terutama sirkuit neural yang berkaitan erat dengan rasa takut, kegelisahan, dan stres pascatrauma.

Sampai tahun 2017, Siobhan sudah menerbitkan lebih dari 10 karya ilmiah di bidang neurosains bersama rekan-rekannya. Beberapa di antaranya memberikan sumbangsih besar untuk perkembangan penelitian tentang tumor otak dan kanker saraf.

3. Cheska Burleson

Di usianya yang bahkan belum mencapai 35 tahun, Cheska Burleson sudah menjadi peneliti berharga di Florida Fish and Wildlife Research Institute. Perempuan yang mengantungi ijazah oseanografi kimia dari University of South Florida dan biologi air tawar & kelautan dari University of Texas ini mempelajari fenomena red tide, perkembangan besar-besaran alga merah yang meracuni kehidupan laut.

Cheska juga menyelidiki kemungkinan ganggang sebagai bahan pengobatan penyakit seperti infeksi dan malaria. Sebelum menjadi ilmuwan, perempuan ini berkiprah sebagai atlet skating selama 10 tahun.

4. Danielle Fong

Danielle Fong, 30 tahun, merupakan salah satu pendiri dan peneliti utama LightSail Energy. Sarjana fisika komputer dan sains dari Dalhousie University ini berkebangsaan Kanada.

Di usia 17 tahun, Danielle mencoba meraih gelar Ph.D dalam bidang fisika plasma di universitas bergengsi, Princeton. Gagal dua tahun kemudian, Danielle justru mendirikan LightSail Energy. Ini adalah sebuah perusahaan berbasis teknologi ramah lingkungan yang mencoba menyediakan sumber energi dari tenaga surya atau angin.

5. Daniela Witten

Dosen biostatistik berparas ayu ini mengabdikan diri di The University of Washington. Gelar sarjana matematika serta sarjana biologi didapatnya dari Stanford University.

Pekerjaan utama Daniela adalah menganalisis dan mengolah data biologi dalam skala besar menjadi data statistik yang bisa dimanfaatkan secara mudah dan efektif. Berkat teknik yang dia kembangkan, data genome saja bisa digunakan untuk panduan dalam mengobati penyakit tertentu.

Bidang pekerjaan Daniela, yaitu statistik menyentuh ranah ilmu yang sangat luas. Profesi ini sengaja dipilihnya, karena dengan begitu dia tak perlu mengambil satu bidang saja untuk ditekuni.

6. Aditi Shankardass

Aditi Shankardass yang berasal dari Inggris disebut sebagai salah satu dari delapan peneliti yang telah mengubah dunia. Ilmuwan di bidang neurosains ini mengabdikan diri di Boston Children's Hospital dan Harvard Medical School.

Putri pengacara artis ini dikenal sebagai ahli neurologi pediatri berkat rekam jejak aktivitas otak secara real-time yang dia kembangkan. Penemuan itu berguna untuk mendeteksi gangguan perkembangan pada anak dan penyebab disleksia.

Selain menjalani perannya sebagai ilmuwan, Aditi juga sempat tampil dalam film Trafficked yang dibintangi oleh Ashley Judd.

7. Myriam Afeiche

Myriam Afeiche adalah ilmuwan nutrisi di Nestl Research Center yang berlokasi di Lausanne, Swiss. Perempuan Lebanon ini mengantungi gelar Ph.D di bidang epidemiologi lingkungan dan gelar M.Phil di bidang ilmu kesehatan lingkungan dari University of Michigan. Sebelumnya dia juga meraih gelar sarjana kesehatan lingkungan dari American University of Beirut.

Myriam mempelajari pengaruh makanan dan faktor lingkungan lainnya terhadap kesehatan reproduksi manusia. Dua temuannya antara lain fakta bahwa konsumsi terlalu banyak keju bisa menurunkan kesuburan pria dan bermalas-malasan bisa membuat produksi sperma berkurang.

8. Heather Christofk

Heather Christofk, Ph.D. adalah dosen kimia biologi serta farmakologi medis dan molekuler. Perempuan 36 tahun ini merupakan lulusan Harvard University dan UCLA, dua universitas bergengsi di Amerika Serikat.

Heather melakukan penelitian terhadap gen dan protein sel kanker. Menurut hasil temuannya, sel kanker hidup dan berkembang dengan gula. Penemuan ini berperan besar dalam pengembangan teknologi pengobatan kanker.

Heather dan rekan-rekannya juga berhasil menemukan bukti bahwa mengubah metabolisme sel punca (stem cell) folikel rambut bisa meningkatkan pertumbuhan rambut.

Saat tidak sibuk meneliti, Heather gemar menonton pertandingan bola basket.

9. Haruko Obokata

Haruko Obokata adalah ahli biologi sel punca dan pemimpin unit di Laboratory for Cellular Reprogramming, RIKEN Center for Developmental Biology. Sayangnya tidak seperti peneliti lain, wanita cantik ini justru mencoreng integritasnya sendiri dengan penemuan palsu.

Haruko mengklaim bahwa dirinya berhasil memproduksi sel punca dari sel biasa orang dewasa hanya dengan proses pencelupan ke dalam cairan asam. Ini merupakan terobosan besar, karena selama ini stem cell hanya bisa diproduksi dengan cara yang lebih 'mahal' dan dalam waktu lebih lama pula.

Jurnal penelitan Haruko dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature dan mendapatkan aplaus luar biasa dari kalangan ilmuwan. Dalam beberapa minggu, keabsahan hasil penelitian tersebut diragukan banyak orang. Pasalnya semua peneliti yang mencoba menerapkan metode Haruko gagal memproduksi stem cell.

Setelah dilakukan penyelidikan, Haruko terbukti melakukan pemalsuan. Dua jurnal yang dia terbitkan ditarik. Setelah itu Haruko mengundurkan diri sebagai peneliti RIKEN di tahun 2014.

Sampai saat ini, pemalsuan yang dilakukan oleh Haruko disebut sebagai salah satu kasus fraud di bidang sains yang paling menghebohkan.

10. Sastia Prama Putri

Indonesia juga punya ilmuwan yang tak kalah berprestasi, namanya Sastia Putri. Dia adalah penerima penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science di tahun 2015. Sehari-hari perempuan ini berprofesi sebagai asisten profesor di Osaka University dan dosen luar biasa di Institut Teknologi Bandung.

Sasti merupakan ketua tim peneliti di Osaka University, memimpin para ilmuwan dari negeri Sakura yang kebanyakan lelaki. Hasil penelitian Sasti yang dikenal publik adalah riset kualitas dan standar kopi luwak dengan teknologi metabolomik.

Itulah deretan para ilmuwan seksi yang telah mengubah wajah dunia sains modern.

0 komentar:

Posting Komentar